It's my life...



Pelabuhan Terakhirmu

Thursday, February 9, 2017

Kau tahu,
Ada yang bilang bahwa sejak awal,
sesungguhnya kau telah memilihku,
tepatnya mempertimbangkanku sebagai pilihanmu.
Hanya saja, kau masih begitu gemar untuk memilih ke sana kemari,
mencari orang mana yang tepat dan layak untuk menjadi pendampingmu.
Namun, mereka bilang, pada akhirnya,
padaku lah kau akhirnya temukan rumah kenyamanan

Kau tahu,
Bagaimana reaksiku begitu mendengar celotehan itu?
Kurasa senyumku menjelaskan makna dengan lugas
Bahwa dalam hati, kata amin berdentum dengan keras
Tak apa jika harus kujaga diri dan hati
Jika memang padaku lah akhirnya kau melabuhkan diri

Kau tahu,
Malam ini ak mengulas masa lalumu
Kembali tersadar, kau selalu mencintai mereka secara penuh
Sayang, wanita-wanita menyianyiakanmu begitu saja
Merugi sekali mereka
Sungguh, jika nanti kau dapati seorang wanita,
bukan kau yang akhirnya merasa beruntung.
Wanita mu itu lah yang harus berbangga dan penuh bahagia.
Kau sosok yang hebat, Mas!
Aku bersedia menunggumu, kumohon, jangan terlambat menjemputku..

Madura, 31 Desember 2016
#30DWC #Day9 #squad1

Rindu Ibu Memuncak di Februari

Tuesday, February 7, 2017

Aku yang dalam keadaan tak biasa
Sekian lama bermasalah dengan rasa
Lalu kutengok kanan kiri mata
Sayang, tak kutemukan manusia untuk cerita

Bukan ku lelah mengadu padaMu, Tuhan
Bukan pula ku hilang percaya atas doa kupanjatkan
Apalagi memilih melenggang meninggalkan pertemuan kita di tengah malam

Sungguh, aku hanya rindu tangan kananMu, Tuhan
Manusia, yang tanpa restunya tak kan Kau indahkan kehidupan
Wanita, yang tanpa ridhonya tak kan Kau berikan kemudahan
Perempuan, yang tanpa ijinnya tak kan Kau menguatkan

Rindu ini melemahkan
Membuatku kembali menimbang
Sanggup kah jika akhirnya kubuat ia khawatir karena rantauku terlampau jauh?

Duh! Ibu.. aku tengah membicarakanmu.

Ibu, kau tahu..
Aku tengah berurusan dengan cinta
Yang belum kutahu bagaimana akhirnya
Sudikah kau peluk aku?
Jadikan kehangatanmu sebagai penawar duka
Akan kepastian yang tak kunjung jua

Ibu,
Aku rindu..
Barang bercengkrama, mengungkap bahwa ku ingin bersama
Dengan ia yang tengah dalam ikhtiar menggapai cita, juga cinta (sepertinya)

Ibu, bolehkah kuakhiri masa di Ibukota?
Lalu kembali menikmati riuh tawa bersama?
Sebelum akhirnya aku resmi menjadi dewasa
Dan membangun keluarga

Ibu, Februari menjadi puncakku memendam rasa
Tiga minggu tak bersua meski dalam suara
Sekian bulan tak saling pandang mata
Ah, Ibu! Bantu aku lalui Februari secepatnya
Sungguh, lelah kulaluinya..

Ibu.. Kumohon sehat lah selalu!
Karena rinduku, belum berlalu..

Jakarta, 7 Februari 2017
11.40 PM

Yakin tetap akan Diam?

Hai, kau!
Kenapa kau pilih bungkam , ketika banyak alasan untuk mengungkapkan?
Kenapa kau pilih diam, ketika banyak orang menawarkan bantuan?
Kenapa pula kau lantas memendam, ketika bisa dengan lantang kau teriakkan?

Benarkah rasa malu yang kau pelihara?
Atau tingginya gengsi yang kau jaga?
Kau bilang karena kau tak sesempurna istri pertama Rasul kita?
Sungguh demikian kah ?

Lalu, kini kau meraung sakit tanpa luka?
Hanya karena kepastian yang tak kau terima?!
Bahkan karena pilihan yang tak kau tahu benar apa manfaatnya?

Berhentilah berpikir bodoh, lekas tentukan sikap!

Jakarta, 7 Februari 2017
10.35 PM

*ditulis ketika "kau" dalam keadaan berantakan dan mulai meragukan arti "diam-diam mendoakan"

#30DWChallenge #Day7 #Squad1

Berbagi Hati

Monday, February 6, 2017



Beberapa tahun yang lalu di salah satu mata kuliah, ada 1 pertanyaan dari dosen yang sebenarnya jawabannya tak terlalu penting untuk kelanjutan isi kelas kita, tapi tetap menarik untuk diperbincangkan.

"Berapa banyak orang yang menyetujui poligami?"

Identitas kita dirahasiakan, karena memang hanya perlu menuliskan "ya" atau "tidak di kertas kecil, dikumpulkan, lalu dihitung.

Dari 29 mahasiswa, kurang dari 10 siswa menyetujui poligami dan selebihnya menolak. Aku salah satu pihak yang setuju. Selepas kuliah aku berbincang dengan salah satu teman pria yang kutahu dia memiliki jawaban yang sama.

Diskusi kurang 15 menit berakhir dengan sebuah kesepakatan, ya, kami sama-sama sepakat bahwa kami tidak bisa menolak ketentuan Tuhan, Allah yang dalam ayatNya membolehkan makhluk ajaib bernama laki-laki menikahi lebih dari 1 wanita, yaitu 2, 3, atau 4. Namun, kami juga percaya bahwa tak kan ada dari mereka yang mampu melakukan pilihan itu, apalagi dengan jaminan surgaNya, terkecuali Nabi Agung kita Muhammad SAW. Kami tetap menyetujui ketentuanNya, tapi bukan berarti kami menyepakati untuk apalagi sanggup melakukannya. Aku mencoba membayangkan, jika nanti menjadi istri, lalu suamiku tiba-tiba membawa perempuan lain ke dalam keluarga, entah dengan ijin atau tidak, sepertinya aku tak kan rela! Ya, aku perempuan biasa, berteman akrab dengan dosa, apalagi sakit hati, cemburu, dan mudah terluka, makanan sehari-hari sepertinya. Ikhlas berbagi rasa sepertinya ungkapan percuma, mentah dan mental jika urusan hati, apalagi kekasih hati. Naudzubillah! Maaf Allah.. Aku belum sanggup dan kurasa tak mungkin sanggup.

Teruntuk calon imamku, maaf, aku harus sampaikan sekarang, bahwa aku tak sanggup dimadu, aku belum lah semulia perempuan-perempuan zaman Nabi yang sepenuhnya ikhlas berbagi hati.

Jika kau tak sanggup setia, juga berdiri bersama satu wanita, silakan dari awal cari lah perempuan lainnya, bukan aku untuk yang kau jadikan ibu dari anak-anak kita!
Semoga aku mampu berbakti padaMu dengan jalan surga lainnya..
#30DWC #Day6 #Squad1

Sandiwara Gadis Belia

Friday, February 3, 2017

Cinta sering kali menghadirkan luka
Jika bukan aku yang mengalaminya
Kulihat sekian banyak dari mereka merasakannya
Tidak kah kau paham jika ini hal yang wajar untuk ku takuti?

Cinta pun gemar membawa suka
Aku pun belum merasakan sepenuhnya
Tapi ada sorot bahagia terlihat dari mereka
Tidak kah kau paham jika ini hal yang wajar untuk ku ingini?

Cinta dan agama itu 2 hal yang berbeda,
Tapi tak kupungkiri mereka erat berkaitan
Kali ini ijinkan ku berbicara hanya soal rasa
Tentang nafsu manusia untuk bahagia
Perihal hati yang menuntut untuk ada yang didamba

Namun, kau tahu?
Aku buta,
Jangan tanya bagaimana kuterjemahkan soal rasa
Membedakan nyaman dan sayang saja aku tak bisa
Apalagi siapa yang kucinta
Jika saja ku tak percaya Tuhan dengarkan doa
Mungkin saja aku memilih membabi buta dalam bercinta
Atau memilih sama sekali hidup tanpanya

Ah, Tuhan! Kau bilang jangan berharap pada manusia lainnya
Nyatanya, Kau buat aku bergantung pada mereka
Hingga khawatir berlebih membuatku tak jernih!

Tuhan! Kau tahu?
Dalam menunggu selalu ada rindu
Dalam menanti rasa ini berkali-kali hampir mati

Sandiwara ini menyakitkan, menyesakkan, tanpa pilihan,

Ah, manusia!
Setidaknya kau harus bahagia, Tuhan masih beri kau rasa percaya
Semua indah pada masanya!
Sabar dan berdoa menjadi kuncinya? Lalu, aku hanya bisa mengakhiri dengan kata, semoga!

*ditulis oleh perempuan hampir 23 yang tiba-tiba memikirkan rasa karena diskusi soal cinta yang berbeda dan penuh drama bersama teman beda usia berakhir dengan ia yang lebih dulu mengistirahatkan mata, Diana namanya.

Jakarta, 23 Juni 2016

Diedit pada:
Jakarta, 3 Februari 2017

Maaf, Aku Mendoakanmu!

Thursday, February 2, 2017

Ada banyak alasan tuk menutup mata
Ternyata, kebohongan tak berlaku pada rasa
Kini, hati berlabuh pada lelaki tak sempurna,
Sosok dirimu yang bersemayam dalam dada

Kau tahu? Ada banyak cara tunjukkan cinta
Yang kupilih, ungkapkannya dalam doa
Meski tanpa tahu, apakah akan terbalas dengan hadirmu,
atau justru kehilanganmu

Jika suatu saat nanti kau temuiku disetiap pagimu,
Maafkan aku,
Kau harus bersama orang yang mungkin saja,
Tak pernah kau harapkan untuk bersanding denganmu.
Kau tahu bahwa Tuhan,
Adalah Dzat yang Maha Membolak-balik hati para makhluknya, bukan?

Jika suatu saat nanti kau memang mengarungi hari tua bersamaku,
maafkan aku,
Mungkin itu jawaban Tuhan,
Atas ketulusan dan kesabaranku menyebut namamu disetiap sujudku,
Kau tahu, lelaki baik hanya akan dipertemukan dengan ia yang baik pula, bukan?
Semoga kita termasuk orang-orang baik yang kemudian dijodohkan.

Jakarta, 2 Februari 2017
-MF-
#30DWCH2

Singkat, tapi Melekat. Sekilas, tapi Membekas!

Wednesday, February 1, 2017

Jika "Cinta dalam Hati" menjadi lagu favoritku sejak SMP dulu, maka "Menangis dalam Hati" menjadi hal favoritku kala itu.

Yaa.. Tangisku hanya meledak sekali, saat perbincangan antara seorang Bapak Tua bersuara serak dengan anak sulung tak tau diuntung berakhir. Sisanya terpendam pada rongga dada berlapis daging tipis yang selalu bergetar dikala kebaikan banyak orang hadir membersamai. Pasalnya, kenikmatan-kenikmatan Tuhan menghampiriku dalam 4 hari itu. Agustus tahun lalu, aku sebagai perempuan Jawa yang sudah lebih dari 5 tahun tinggal d Ibukota harus kembali dari Jogjakarta ke Jakarta dengan cara yang berbeda. Perjalanan dibatasi dalam waktu 4 hari 3 malam bersama 2 teman seperjuangan yang kemudian kusebut sebagai saudara senyawa. Mada, perempuan setangguh baja dari Sulawesi Tenggara dan Garda, mahasiswa akhir Universitas Gajah Mada. Sejak awal aku pun tak menganggap kebersamaan kami sebagai tantangan karena sepertinya tak banyak beda diantara kita. 2 kota dengan bekal 100.000 yang harus kami singgahi yakni Purwokerto dengan misi tangan di atas dan Brebes dengan misi tangan di bawah pun ku rasa akan berjalan dengan baik-baik saja.
Tumpangan gratis atau penolakan halus-kasar dari mobil pick up, truk terbuka, atau mobil biasa-mewah sepertinya menjadi hal lumrah dalam setiap perjalanan kami. Dari ayam goreng, rica-rica, nasi rames, hingga gorengan menjadi santapan penuh makna. Petugas pasar dengan ramahnya menyambut ziarah tangan di bawah kami, memberi kami tempat penitipan barang, rekomendasi para penjual, hingga makan siang. Begitu pun Pak polisi yang mengijinkan kami mengamen bahkan mencarikan tumpangan, juga menraktir makan. Mas Sayuti, yang tiba-tiba muncul ketika kami mencari tau tentang jalan menuju alun-alun Brebes memberi kepercayaan speenuhnya untuk meninggali rumah secara utuh tanpa penghuni lainnya, sebelumnya, ia mengajak kami keliling 2 kota (Tegal-Brebes) dengan Honda Jazz merah sambil banyak cerita. Bantuan terakhir menutup ziarah diri tangan di atas kami datang ketika kami lambaikan kertas bertuliskan, "Numpang ke Cirebon, Pak.. Tolong" menggugah hati seorang bapak satu orang anak; Pak H. Kasmuri namanya. Bersama Avanza beliau, kami meninggalkan Kota Telur Asin dengan hati yang luar biasa. Mendengar berbagai petuah beliau, kami merasa kecil sekaligus harus merasa besar untuk terus melanjutkan perjuangan.
Perjalanan mengenal diri ini membuatku memberi arti, tantangan yang aku dan 2 karibku sepakati sebagai hal yang sedikit biasa membuat kami kembali sepakat untuk memberi makna yang luar biasa. Semakin sadar bahwa tak satu pun manusia bersih dari dosa, tak ada sesuatu yang kekal dan abadi, tak ada hal apa pun yang mampu sempurna. Namun, Tuhan tak pernah gagal menciptakan sesuatu. Ia sempurna dalam membentuk fungsi dari setiap apa yang dicipta, karena Ia Maha Segalanya.
Ia sisakan banyak manusia berharga dengan hati yang begitu istimewa. Manusia-manusia yang dalam memberi dan peduli tak perlu mengenal jati diri, melainkan cukup bergeraknya ketulusan hati. Manusia-manusia yang jika dalam percayanya melampaui apa yang ia miliki, akan berhasil dalam menempa diri.
Menjadi manusia baru, kurasa bukan basa basi semata. Aku yang sering kali sejak dini meremehkan diri sebagai manusia sampah tanpa arti, kini siap menjadi pribadi mandiri yang harus lebih peduli pada 2-3 manusia di sebelah kaki. Aku yang tak jarang mengabaikan keluarga dan adik-adikku, kini sadar dari tamparan untuk kembali mengayomi mereka. Untuk tidak melulu memberi mereka materi, melainkan ketulusan hati dalam berbagi. Perjalanan ini singkat, tapi melekat. Sekilas, tapi membekas.



Terima kasih telah membantuku memberi arti.

Terima kasih telah menjadikanku manusia yang lebih berarti.