It's my life...



Rindu Ibu Memuncak di Februari

Tuesday, February 7, 2017

Aku yang dalam keadaan tak biasa
Sekian lama bermasalah dengan rasa
Lalu kutengok kanan kiri mata
Sayang, tak kutemukan manusia untuk cerita

Bukan ku lelah mengadu padaMu, Tuhan
Bukan pula ku hilang percaya atas doa kupanjatkan
Apalagi memilih melenggang meninggalkan pertemuan kita di tengah malam

Sungguh, aku hanya rindu tangan kananMu, Tuhan
Manusia, yang tanpa restunya tak kan Kau indahkan kehidupan
Wanita, yang tanpa ridhonya tak kan Kau berikan kemudahan
Perempuan, yang tanpa ijinnya tak kan Kau menguatkan

Rindu ini melemahkan
Membuatku kembali menimbang
Sanggup kah jika akhirnya kubuat ia khawatir karena rantauku terlampau jauh?

Duh! Ibu.. aku tengah membicarakanmu.

Ibu, kau tahu..
Aku tengah berurusan dengan cinta
Yang belum kutahu bagaimana akhirnya
Sudikah kau peluk aku?
Jadikan kehangatanmu sebagai penawar duka
Akan kepastian yang tak kunjung jua

Ibu,
Aku rindu..
Barang bercengkrama, mengungkap bahwa ku ingin bersama
Dengan ia yang tengah dalam ikhtiar menggapai cita, juga cinta (sepertinya)

Ibu, bolehkah kuakhiri masa di Ibukota?
Lalu kembali menikmati riuh tawa bersama?
Sebelum akhirnya aku resmi menjadi dewasa
Dan membangun keluarga

Ibu, Februari menjadi puncakku memendam rasa
Tiga minggu tak bersua meski dalam suara
Sekian bulan tak saling pandang mata
Ah, Ibu! Bantu aku lalui Februari secepatnya
Sungguh, lelah kulaluinya..

Ibu.. Kumohon sehat lah selalu!
Karena rinduku, belum berlalu..

Jakarta, 7 Februari 2017
11.40 PM

Yakin tetap akan Diam?

Hai, kau!
Kenapa kau pilih bungkam , ketika banyak alasan untuk mengungkapkan?
Kenapa kau pilih diam, ketika banyak orang menawarkan bantuan?
Kenapa pula kau lantas memendam, ketika bisa dengan lantang kau teriakkan?

Benarkah rasa malu yang kau pelihara?
Atau tingginya gengsi yang kau jaga?
Kau bilang karena kau tak sesempurna istri pertama Rasul kita?
Sungguh demikian kah ?

Lalu, kini kau meraung sakit tanpa luka?
Hanya karena kepastian yang tak kau terima?!
Bahkan karena pilihan yang tak kau tahu benar apa manfaatnya?

Berhentilah berpikir bodoh, lekas tentukan sikap!

Jakarta, 7 Februari 2017
10.35 PM

*ditulis ketika "kau" dalam keadaan berantakan dan mulai meragukan arti "diam-diam mendoakan"

#30DWChallenge #Day7 #Squad1

Berbagi Hati

Monday, February 6, 2017



Beberapa tahun yang lalu di salah satu mata kuliah, ada 1 pertanyaan dari dosen yang sebenarnya jawabannya tak terlalu penting untuk kelanjutan isi kelas kita, tapi tetap menarik untuk diperbincangkan.

"Berapa banyak orang yang menyetujui poligami?"

Identitas kita dirahasiakan, karena memang hanya perlu menuliskan "ya" atau "tidak di kertas kecil, dikumpulkan, lalu dihitung.

Dari 29 mahasiswa, kurang dari 10 siswa menyetujui poligami dan selebihnya menolak. Aku salah satu pihak yang setuju. Selepas kuliah aku berbincang dengan salah satu teman pria yang kutahu dia memiliki jawaban yang sama.

Diskusi kurang 15 menit berakhir dengan sebuah kesepakatan, ya, kami sama-sama sepakat bahwa kami tidak bisa menolak ketentuan Tuhan, Allah yang dalam ayatNya membolehkan makhluk ajaib bernama laki-laki menikahi lebih dari 1 wanita, yaitu 2, 3, atau 4. Namun, kami juga percaya bahwa tak kan ada dari mereka yang mampu melakukan pilihan itu, apalagi dengan jaminan surgaNya, terkecuali Nabi Agung kita Muhammad SAW. Kami tetap menyetujui ketentuanNya, tapi bukan berarti kami menyepakati untuk apalagi sanggup melakukannya. Aku mencoba membayangkan, jika nanti menjadi istri, lalu suamiku tiba-tiba membawa perempuan lain ke dalam keluarga, entah dengan ijin atau tidak, sepertinya aku tak kan rela! Ya, aku perempuan biasa, berteman akrab dengan dosa, apalagi sakit hati, cemburu, dan mudah terluka, makanan sehari-hari sepertinya. Ikhlas berbagi rasa sepertinya ungkapan percuma, mentah dan mental jika urusan hati, apalagi kekasih hati. Naudzubillah! Maaf Allah.. Aku belum sanggup dan kurasa tak mungkin sanggup.

Teruntuk calon imamku, maaf, aku harus sampaikan sekarang, bahwa aku tak sanggup dimadu, aku belum lah semulia perempuan-perempuan zaman Nabi yang sepenuhnya ikhlas berbagi hati.

Jika kau tak sanggup setia, juga berdiri bersama satu wanita, silakan dari awal cari lah perempuan lainnya, bukan aku untuk yang kau jadikan ibu dari anak-anak kita!
Semoga aku mampu berbakti padaMu dengan jalan surga lainnya..
#30DWC #Day6 #Squad1

Sandiwara Gadis Belia

Friday, February 3, 2017

Cinta sering kali menghadirkan luka
Jika bukan aku yang mengalaminya
Kulihat sekian banyak dari mereka merasakannya
Tidak kah kau paham jika ini hal yang wajar untuk ku takuti?

Cinta pun gemar membawa suka
Aku pun belum merasakan sepenuhnya
Tapi ada sorot bahagia terlihat dari mereka
Tidak kah kau paham jika ini hal yang wajar untuk ku ingini?

Cinta dan agama itu 2 hal yang berbeda,
Tapi tak kupungkiri mereka erat berkaitan
Kali ini ijinkan ku berbicara hanya soal rasa
Tentang nafsu manusia untuk bahagia
Perihal hati yang menuntut untuk ada yang didamba

Namun, kau tahu?
Aku buta,
Jangan tanya bagaimana kuterjemahkan soal rasa
Membedakan nyaman dan sayang saja aku tak bisa
Apalagi siapa yang kucinta
Jika saja ku tak percaya Tuhan dengarkan doa
Mungkin saja aku memilih membabi buta dalam bercinta
Atau memilih sama sekali hidup tanpanya

Ah, Tuhan! Kau bilang jangan berharap pada manusia lainnya
Nyatanya, Kau buat aku bergantung pada mereka
Hingga khawatir berlebih membuatku tak jernih!

Tuhan! Kau tahu?
Dalam menunggu selalu ada rindu
Dalam menanti rasa ini berkali-kali hampir mati

Sandiwara ini menyakitkan, menyesakkan, tanpa pilihan,

Ah, manusia!
Setidaknya kau harus bahagia, Tuhan masih beri kau rasa percaya
Semua indah pada masanya!
Sabar dan berdoa menjadi kuncinya? Lalu, aku hanya bisa mengakhiri dengan kata, semoga!

*ditulis oleh perempuan hampir 23 yang tiba-tiba memikirkan rasa karena diskusi soal cinta yang berbeda dan penuh drama bersama teman beda usia berakhir dengan ia yang lebih dulu mengistirahatkan mata, Diana namanya.

Jakarta, 23 Juni 2016

Diedit pada:
Jakarta, 3 Februari 2017

Maaf, Aku Mendoakanmu!

Thursday, February 2, 2017

Ada banyak alasan tuk menutup mata
Ternyata, kebohongan tak berlaku pada rasa
Kini, hati berlabuh pada lelaki tak sempurna,
Sosok dirimu yang bersemayam dalam dada

Kau tahu? Ada banyak cara tunjukkan cinta
Yang kupilih, ungkapkannya dalam doa
Meski tanpa tahu, apakah akan terbalas dengan hadirmu,
atau justru kehilanganmu

Jika suatu saat nanti kau temuiku disetiap pagimu,
Maafkan aku,
Kau harus bersama orang yang mungkin saja,
Tak pernah kau harapkan untuk bersanding denganmu.
Kau tahu bahwa Tuhan,
Adalah Dzat yang Maha Membolak-balik hati para makhluknya, bukan?

Jika suatu saat nanti kau memang mengarungi hari tua bersamaku,
maafkan aku,
Mungkin itu jawaban Tuhan,
Atas ketulusan dan kesabaranku menyebut namamu disetiap sujudku,
Kau tahu, lelaki baik hanya akan dipertemukan dengan ia yang baik pula, bukan?
Semoga kita termasuk orang-orang baik yang kemudian dijodohkan.

Jakarta, 2 Februari 2017
-MF-
#30DWCH2

Singkat, tapi Melekat. Sekilas, tapi Membekas!

Wednesday, February 1, 2017

Jika "Cinta dalam Hati" menjadi lagu favoritku sejak SMP dulu, maka "Menangis dalam Hati" menjadi hal favoritku kala itu.

Yaa.. Tangisku hanya meledak sekali, saat perbincangan antara seorang Bapak Tua bersuara serak dengan anak sulung tak tau diuntung berakhir. Sisanya terpendam pada rongga dada berlapis daging tipis yang selalu bergetar dikala kebaikan banyak orang hadir membersamai. Pasalnya, kenikmatan-kenikmatan Tuhan menghampiriku dalam 4 hari itu. Agustus tahun lalu, aku sebagai perempuan Jawa yang sudah lebih dari 5 tahun tinggal d Ibukota harus kembali dari Jogjakarta ke Jakarta dengan cara yang berbeda. Perjalanan dibatasi dalam waktu 4 hari 3 malam bersama 2 teman seperjuangan yang kemudian kusebut sebagai saudara senyawa. Mada, perempuan setangguh baja dari Sulawesi Tenggara dan Garda, mahasiswa akhir Universitas Gajah Mada. Sejak awal aku pun tak menganggap kebersamaan kami sebagai tantangan karena sepertinya tak banyak beda diantara kita. 2 kota dengan bekal 100.000 yang harus kami singgahi yakni Purwokerto dengan misi tangan di atas dan Brebes dengan misi tangan di bawah pun ku rasa akan berjalan dengan baik-baik saja.
Tumpangan gratis atau penolakan halus-kasar dari mobil pick up, truk terbuka, atau mobil biasa-mewah sepertinya menjadi hal lumrah dalam setiap perjalanan kami. Dari ayam goreng, rica-rica, nasi rames, hingga gorengan menjadi santapan penuh makna. Petugas pasar dengan ramahnya menyambut ziarah tangan di bawah kami, memberi kami tempat penitipan barang, rekomendasi para penjual, hingga makan siang. Begitu pun Pak polisi yang mengijinkan kami mengamen bahkan mencarikan tumpangan, juga menraktir makan. Mas Sayuti, yang tiba-tiba muncul ketika kami mencari tau tentang jalan menuju alun-alun Brebes memberi kepercayaan speenuhnya untuk meninggali rumah secara utuh tanpa penghuni lainnya, sebelumnya, ia mengajak kami keliling 2 kota (Tegal-Brebes) dengan Honda Jazz merah sambil banyak cerita. Bantuan terakhir menutup ziarah diri tangan di atas kami datang ketika kami lambaikan kertas bertuliskan, "Numpang ke Cirebon, Pak.. Tolong" menggugah hati seorang bapak satu orang anak; Pak H. Kasmuri namanya. Bersama Avanza beliau, kami meninggalkan Kota Telur Asin dengan hati yang luar biasa. Mendengar berbagai petuah beliau, kami merasa kecil sekaligus harus merasa besar untuk terus melanjutkan perjuangan.
Perjalanan mengenal diri ini membuatku memberi arti, tantangan yang aku dan 2 karibku sepakati sebagai hal yang sedikit biasa membuat kami kembali sepakat untuk memberi makna yang luar biasa. Semakin sadar bahwa tak satu pun manusia bersih dari dosa, tak ada sesuatu yang kekal dan abadi, tak ada hal apa pun yang mampu sempurna. Namun, Tuhan tak pernah gagal menciptakan sesuatu. Ia sempurna dalam membentuk fungsi dari setiap apa yang dicipta, karena Ia Maha Segalanya.
Ia sisakan banyak manusia berharga dengan hati yang begitu istimewa. Manusia-manusia yang dalam memberi dan peduli tak perlu mengenal jati diri, melainkan cukup bergeraknya ketulusan hati. Manusia-manusia yang jika dalam percayanya melampaui apa yang ia miliki, akan berhasil dalam menempa diri.
Menjadi manusia baru, kurasa bukan basa basi semata. Aku yang sering kali sejak dini meremehkan diri sebagai manusia sampah tanpa arti, kini siap menjadi pribadi mandiri yang harus lebih peduli pada 2-3 manusia di sebelah kaki. Aku yang tak jarang mengabaikan keluarga dan adik-adikku, kini sadar dari tamparan untuk kembali mengayomi mereka. Untuk tidak melulu memberi mereka materi, melainkan ketulusan hati dalam berbagi. Perjalanan ini singkat, tapi melekat. Sekilas, tapi membekas.



Terima kasih telah membantuku memberi arti.

Terima kasih telah menjadikanku manusia yang lebih berarti.

Petani Pemberi Arti

Sunday, August 7, 2016

Teruntuk anak petani yang semakin gemar berbagi; Maizal Walfajri

Ada hal-hal yang tak pernah dapat dipinta; salah satunya memilih siapa orang tua kita. Tuhan Yang Maha Segala membatasi kemampuan makhlukNya. Ia lah yang berkuasa menunjuk rahim siapa berisi siapa, terlahir dari si kaya atau bahkan jauh dari sederhana, dibesarkan oleh yang langsung dikenal tanpa menyebutkan nama atau bahkan tak pernah sekalipun dianggap ada. Demikian pula dengan bujang Padang Panjang yang lahir 22 silam ini, dia tak pernah memilih untuk tumbuh menjadi sosok yang akhirnya cinta pendidikan justru bersama orang tua dengan pekerjaan yang dianggap akan mewariskan ilmu agar anak-anaknya hidup sampai tua dengan pekerjaan yang sama; Petani Desa.
Ialah Maizal Walfajri, anak ke-empat dari 5 bersaudara yang bercita-cita menjadi seorang dokter. Namun, siapa sangka ia kini menikmati pendidikannya di salah satu perguruan tinggi ternama dengan jurusan Ilmu Komunikasi di Bandung. Jangan kan berkaitan dengan cita-cita, keinginannya pun jauh dari sana. Lagi dan lagi, manusia memang ada batas kemampuannya, seringkali ia mendapat apa yang mereka butuhkan, bukan inginkan. Tentu hanya Tuhan yang mampu mengetahuinya bukan? Mai, begitu ia disapa, yang semasa kelas 3 SMA hanya mengincar satu Universitas dengan predikat salah satu yang terbaik di Indonesia bernama ITB dengan jurusan Teknik Industri dan Mikrobiologi, justru jatuh pada pilihan terakhirnya yang dengan asal ia tulis saat pendaftaran; Universitas Padjajaran. Menyesalkah ia berdiri di tempatnya saat ini? Ia justru bersyukur, Tuhan Memang Maha Sempurna dalam menunjukkan kebutuhan nurani ciptaanNya, bukan sekedar memberi apa yang manusia inginkan.
Berawal dari keberuntungan tak disengaja itulah akhirnya Maizal terseret dan terkena candu pada bagaimana dunia sosial, terutama pendidikan yang bahkan dalam kesederhanaannya masih dapat memberi arti. Pengalaman yang ia geluti dibidang social atau pun pendidikan memang belum lah lama, tapi setidaknya apa yang ia dapat telah memberi banyak makna hingga membuat ia betah untuk semakin lama berada di lingkaran itu. Jika pada awalnya ia hanya iseng untuk mendaftar menjadi seorang volunteer pada projek pertama di tahun 2015, sekarang ia bahkan mendapat kepercayaan untuk menjadi koordinator projek kedua di sebuah komunitas bernama Satu Ton untuk Papua (STUP). STUP adalah sebuah komunitas yang peduli akan pendidikan untuk anak-anak yang berada di Papua. Para volunteer di dalamnya mengumpulkan berbagai macam bahan penunjang belajar seperti buku bacaan, buku pelajaran, alat tulis, dan permainan edukatif untuk dikirimkan ke Papua. Tidak hanya itu, salah satu volunteer hadir ditengah-tengah adik-adik Papua untuk mengajar mereka di sebuah rumah yang sama-sama mereka bangun bernama Honai Mimpi. Sebelum berada di komunitas itu, saat tahun pertama hingga tahun ketiga ia kuliah, lelaki yang mengaku memiliki hobi membaca ini bergabung pada salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di fakultasnya bernama Kelompok Jatinangor 21. Mai juga pernah menjadi panitia program BEM Kema Unpad Kementerian Pengabdian di tahun kedua kuliah dan juga pernah terlibat dalam Traveling and Teaching (TNT) oleh 1000 Guru Bandung di SMPTN Cicalengka, Jawa Barat. Dunia ini pula yang mengantarnya untuk berkesempatan bertemu dengan Butet Manurung, pendiri Sakola Rimba, saat menjadi panitia Diskusi Pendidikan antara Sakola Rimba dan 1000 Guru Bandung. Ia masih ingat salah satu hasil diskusi tersebut, “peduli saja tidak cukup, jika kita ingin peduli, lakukan hal yang tetap menjadikan yang kita pedulikan itu menjadi dirinya sendiri”. Ia pun mengaku benar telak pada pernyataan tersebut.
Dalam keseharian di tempat kuliah, Maizal juga cukup berbeda dengan teman-teman seperjuangannya. Pasalnya, jika mahasiswa lainnya memilih menghabiskan waktu liburan kuliah mereka untuk liburan ke tempat-tempat wisata atau di kampung halamannya, pemuda yang lahir di tanggal 16 Juli ini justru hobi sekali untuk mengisinya dengan magang, magang, dan magang. Alhasil, pengalaman magangnya telah membawa ia di tempat-tempat ternama seperti Harian Kontan, Kantor Staff Kepresidenan, dan kini ia masih menyelesaikan bulan Agustusnya untuk berada di media televisi (yang katanya) masa kini, NET. TV.  Menurut pemuda yang berniat akan meneruskan S2 sebelum menjadi pendidik mahasiswa ini, dalam magang ia pun sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kawan sebaya, ia tetap bisa nongkrong dan bermain hanya saja manfaatnya jauh lebih terasa, terutama saat ia bisa bertemu dengan orang-orang baru yang notabennya bukan orang-orang biasa.
Perihal sosok-sosok yang berada dibalik tirai keistimewaan seorang Maizal, ia mengaku bahwa kedua petani yang terkesan memaksakan diri untuk menyekolahkan kelima anaknya lah yang menjadi inspirator terbesar dalam hidupnya. Adalah yang ia panggil dengan sebutan Ayah dan Umi ini lah ia belajar banyak hal tentang kehidupan, terutama dalam memperjuangkan pendidikan. Kebanggan Maizal pada mereka tak semata-mata karena mereka adalah orang tua, lebih dari itu, mereka berbeda dari kebanyakan petani lainnya. Dari keluarga petani yang sangat sederhana, tetapi menekankan kehangatan keluarga ini lah lahir 2 orang sarjana, satu lagi tengah menempuh program magisternya, bungsunya masih di SMP, dan Maizal sendiri tengah memperjuangkan skripsinya agar segera wisuda. Jika saja orang tuanya tak segigih ini dalam menyekolahkan anak-anaknya, mungkin saja Maizal yang selanjutnya berencana bergabung di Indonesia Mengajar ini tak akan mengenal pulau di luar Sumatera bahkan kuliah di Pulau Jawa. Ia beserta ke 4 saudaranya barangkali akan terus bersama untuk ke sawah dan ladang di setiap harinya. Meski ayahnya bahkan tak tamat SD, tetapi ia menjunjung tinggi nilai dan norma positif dalam keluarga. Sejak kecil, Maizal beserta para saudara belajar demokrasi, mengungkapkan dan menghargai pendapat, dan tentunya bertanggungjawab. Meski dalam skala kecil berupa keluarga, nyatanya mampu memberikan perubahan yang berarti di keseharian anak-anaknya hingga dewasa. Kedua petani ini pula yang akhirnya menjadikan seorang pecinta kopi dan film ini terjun di bidang sosial-pendidikan. Ia tak mau hanya ada 5 anak desa seperti dia yang merasakan indahnya pendidikan dan semangat positif untuk terus berkembang dan berbagi. Semangat-semangat berbagi itu semakin berkobar tatkala ia justru merasa “menerima” ketika ia “berbagi”. Tak ada rasa kehilangan atas sesuatu yang ia berikan pada orang lain, sebaliknya, ia menerima reminder dari Tuhan melalui orang-orang yang mereka bagi untuk terus hidup dalam kerendahan hati dan penuh syukur pada Ilahi.


Ditulis oleh seorang pendidik yang gemar menelisik; Mu’azzatul Faridah